TEKNIK PANEN KELAPA SAWIT DI PT TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS AIR MOLEK-INDRAGIRI HULU-RIAU

Tehnik Panen Kelapa Sawit
BAB II
II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kelapa Sawit
Kelapa sawit ( Elaeis guinensis Jacq ) adalah salah satu dari beberapa palma yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Minyak sawit selain digunakan sebagai minyak makanan margarin, dapat juga digunakan untuk industri sabun, lilin serta industri kosmetik. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memberikan kontribusi penting pada pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pada pembangunan agroindustri. (Hartono, 2002). Tanaman kelapa sawit dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae; Divisi: Spermathopyta; Kelas: Monocotiledone; Ordo: Arecales; Famili: Araceceae; Genus: Elaeis; Spesies: Elaeis guineensis Jacq (Setyamidjaja, 2008).

2.2   Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
2.2.1 Daun
Seperti tanaman palma lainnya, daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelapah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. bentuk daunnya termasuk majemuk menyirip, tersusun rozet pada ujung batang (Hartono, 2002).

2.2.2 Pelepah Sawit
Pelepah sawit meliputi helai daun, setiap satunya terdiri dari lamina, midrib, racis tengah, petiol dan kelopak pelepah. Setiap pelepah mempunyai lebih kurang 100 pasang helai daun. Bilangan pelepah yang dihasilkan meningkat sehingga 30 hingga 40 ketika berumur tiga hingga empat tahun dan kemudian menurun sehingga 18 hingga 25 pelepah. (Hartono, 2002).
Jumlah pelepah, panjang pelepah, dan jumlah anak daun tergantung pada umur tanaman. Tanaman yang berumur tua, jumlah pelepah dan anak daun lebih banyak. Begitu pula pelepah akan lebih panjang dibanding dengan tanaman yang masih muda. Saat tanaman berumur sekitar 10 – 13 tahun dapat ditemukan daun yang luas permukaannya mencapai 10 – 15 m2 (Binama, 2005).

2.2.3 Batang
Batang tanaman diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan tanaman kelapa (Hartono, 2002).
Batang kelapa sawit berfungsi sebagai struktur yang mendukung daun, bunga dan buah. Selain itu, batang berfungsi sebagai sistem pembuluh yang mengangkut air, hara , mineral, dan hasil fotosintesis dari akar ke seluruh bagian kelapasawit. Batang kelapa sawit juga merupakan tempat penimbun zat makanan. (Pahan, 2008).

2.2.4 Akar
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar nafas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Susunan  akar kelapa sawit terdiri dari akar serabut primer yang tumbuh vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping dan bercabang menjadi akar sekunder ke atas dan ke bawah dan akhirnya cabang-cabang ini pun bercabang lagi akar tersier dan seterusnya. Akar kalapa sawit dapat mencapai 8 meter dan 16 meter secara horizontal (Lubis, 2006).
Pada kelapa sawit, pada dasarnya akar berfungsi sebagai penunjang struktur batang diatas tanah, menyerap air dan unsur-unsur hara pada tanah dan sebagai alat respirasi (Pahan,2008). Kelapa sawit termasuk dalam sub-kelas monokotil. Akar dari kelapa sawit adalah akar serabut. Akar kelapa sawit mengalami perkembangan dan pertumbuhan selama hidup untuk memenuhi kebutuhan dan fungsinya.
Akar primer yang keluar dari pangkal batang (bulb) mencapai puluhan ribu banyaknya. Akar primer tumbuh mencapai diameter 5-10mm dan mencapai kedalaman 1,5 m saja. Dari akar primer ini tumbuh akar sekunder yang tumbuh horizontal dan dari sini tumbuh pula akar tersier dan kwartener yang berada dekat pada permukaan tanah. Akar tersier dan kwartener inilah yang palingaktif mengambil air dan hara lain dari dalam tanah.
2.2.5 Bunga
Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan (Satyawibawa, 2008).
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.

2.2.6 Buah
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80 persen perikarp dan 20 persen buah yang dilapisi kulit yang tipis, kadar minyak dalam perikarp sekitar 34 - 40 persen (Satyawibawa, 2008).
Buah terdiri dari tiga lapisan:
a) Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
b) Mesoskarp, serabut buah
c) Endoskarp, cangkang pelindung inti. Inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28% (Darmawan, 2009).

2.3 Mekanisasi Di Perkebunan
Dalam presentasinya di Konferensi Sawit yang diadakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada akhir tahun 2013, Daud Dharsono, Ketua Bidang Sustainability GAPKI, menjelaskan pentingnya penerapan mekanisasi di perkebunan kelapa sawit dalam upaya meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja. Definisi mekanisasi, kata Daud, adalah kegiatan menggunakan alat bantuan mekanik menggantikan pekerjaan yang biasa dilakukan tenaga manusia maupun hewan dalam mengelola lahan. Jenis alat mekanik yang digunakan antara lain traktor, alat panen mekanis, truk, dan pesawat terbang. Mekanisasi ini akan menjamin penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan membantu optimalisasi produktivitas, kata Daud Dharsono dalam paparannya. Kegiatan mekanisasi yang berbasiskan kepada mesin dan teknologi saat ini masih terfokus kepada kegiatan on farm (kebun). Di tahapan aktivitas kebun, mekanisasi dijalankan pada kegiatan pembukaan lahan, pemupukan, pemanenan, dan pengangkutan bibit/buah sawit. (Dharsono Daud., 2013).
PT Astra Agro Lestari Tbk termasuk perusahaan yang sedang bersemangat dalam menjalankan mekanisasi di kebun sawitnya sebagai bagian dari kegiatan intensifikasi. Semenjak tahun 2008, perusahaan berkode AALI di bursa saham ini, sudah mengutamakan intensifikasi sebagai usaha menaikan produktivitas.
Widya Wiryawan, Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, beberapa waktu lalu sempat mengatakan sulitnya mendapatkan lahan perkebunan kelapa sawit baru sehingga menjadi pertimbangan intensifikasi wajib dilakukan. Hal ini sangatlah penting guna menjaga produksi dapat terus meningkat. Di Astra Agro, kegiatan intensifikasi meliputi penerapan Manajemen Rawat Terpadu (MRT), mekanisasi pemupukan, usaha perbaikan tingkat kesuburan tanah dan peningkatan kualitas pohon kelapa sawit, melalui penyerbukan dan sistem tata kelola air.( Dharsono.,2013)
Mekanisasi menjadi cara paling muktahir untuk mengelola perkebunan kelapa sawit supaya efektif dan efisien. Pasalnya, keberadaan perkebunan kelapa sawit masih terbilang minim teknologi. Pengelolaannya, relatif masih terbilang ala kadarnya, dimana proses kerja manual sebagian besar masih dilakukan.( Rahim Supli. 2013)

III. MATERI DAN METODE


3.1 Tempat dan Waktu
Lokasi kegiatan praktek lapang ini dilaksanakan di PT Tunggal Perkasa Plantations-Air molek-Indragiri Hulu-Riau Kebun Sei Lala yang dilaksanakan pada tanggal 5 Febuari  sampai dengan tanggal 5 Maret 2015.

3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam Praktek lapangan ini meliputi: dodos, egrek, kampak tomasun, helem pemanen, karung berondolan, rojok, pelengki, Sepatu boot tinggi, mesin wintor, sarung tangan, kamera digital, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah dalam pembuatan baja,

3.3 Materi
Materi praktek lapang dalam teknik mekanisasi panen kelapa sawit di PT Tunggal Perkasa Plantations-Air molek-Indragiri Hulu-Riau meliputi : persiapan panen, sensus kerapatan buah masak, kriteria buah masak, persiapan evakuasi buah, Sistem Perhitungan Reward panen pemantauan dalam pemanenan.

3.4 Metode Peraktek Kerja Lapang
Data yang diambil dalam praktek lapang yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kerja praktek lapang dan wawancara dengan petugas yang terkait dengan mekanisasi panen tersebut. Sedangkan data sekunder yaitu referensi dari berbagai buku maupun artikel tentang budidaya kelapa sawit.
Pengumpulan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Pengamatan baru tergolong sebagai teknik mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut mempunyai kriteria berikut:

Share 'TEKNIK PANEN KELAPA SAWIT DI PT TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS AIR MOLEK-INDRAGIRI HULU-RIAU' On ...

Belum ada komentar untuk "TEKNIK PANEN KELAPA SAWIT DI PT TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS AIR MOLEK-INDRAGIRI HULU-RIAU"

Post a Comment